Wednesday, 21 December 2011

10 Kesalahan yang Harus Dihindari Dalam Mengirim Email Bisnis

10 Kesalahan yang Harus Dihindari Dalam Mengirim Email Bisnis

Surat menyurat bisnis lewat internet sudah jadi hal mahfum. Namun di balik itu, tetap ada etika tidak tertulis terkait kepantasan surat menyurat ini. Berikut 10 kesalahan yang harus Anda hindari saat menulis surat bisnis lewat email:

1. Huruf Besar Semua Pernahkah Anda menerima surat dengan tulisan huruf besar semua? Meski isi surat biasa saja, tapi kesan yang ditimbulkan oleh penggunaan huruf besar ini sangat khas. Seakan-akan Anda, si pengirim, 'berteriak' pada si penerima. Penggunaan ini sangat dianjurkan tidak dilakukan.
2. Huruf yang 'Lucu' Penggunaan surat bisnis selayaknya formil. Ada beberapa font atau huruf yang justru sebaliknya. Menimbulkan kesan santai atau kekanak-kanakkan. Penggunaan huruf seperti Comic Sans seharusnya dihindari. Surat bisnis formil mengacu pada huruf Times New Roman atau Helvetica.
3. Salah Ketik Nama Ini sangat fatal! Salah ketik nama akan membuat si penerima surat merasa 'terhina'. Kalau Anda kesulitan mengetik atau kerap salah, lebih baik langsung copy paste nama yang bersangkutan.
4. Menggunakan Emoticons Tanpa kita sadari, dengan perkembangan chatting, Emoticons di Messenger sudah menjadi hal yang 'biasa'. Namun menggunakan Emoticons jangan dilakukan di surat resmi. Bayangkan bila ada tanda 'smiley' di surat bisnis yang Anda kirim atau Anda terima. Rasanya sih aneh.
5. Bahasa Informal Surat bisnis juga haram menggunakan bahasa informal. Apalagi bahasa slang yang sekarang lazim dikirim via SMS atau chatting. Anda tidak akan nyaman saat menerima surat seperti ini bukan, "Halluww! Apa kabar? Si Anu kemaren cerita ke gue, katanya elo punya produk yang khueren abieezz yak? Bisa dungs dishare ke kita-kita di sini. Ditungguh ya sharenya, muaachh."
6) Bertele-tele Membuat surat elektronik bisnis jangan bertele-tele. Langsung pada inti masalah. Umumnya, inti kalimat bisa dijelaskan dalam tiga kalimat. Sebuah penelitian di Jerman menemukan, surat bisnis lewat email intinya relatif sama dengan tiga kali mengirim SMS.
7. Subyek Surat Langsung Tegas Subyek email bisnis harus langsung menggambarkan isi surat. Bukan lagi kalimat percakapan normal seperti 'Hai'.
8. Merongrong Biasanya orang tak sabar menanti jawaban atas email mereka. Dalam etika bisnis, mengirim email menanyakan perkembangan sebaiknya dilakukan dalam hitungan puluhan jam. Misalnya, setelah 24 jam, Anda bisa menanyakan bagaimana perkembangan email yang Anda kirim. Jangan langsung baru tiga jam Anda sudah memborbardir menanyakan perkembangan, kecuali memang hal yang mendesak, atau Anda bisa menelepon yang bersangkutan, tidak harus menunggunya.
9. Clip art Memasang Clip Art dalam surat bisnis resmi sudah pasti dilarang. Tanpa pengecualian.
10. Berkorespondensi via Jejaring Sosial Etika bisnis mengatur jangan pernah menghubungi kontak Anda via laman jejaring sosial. Gunakanlah saluran yang resmi, yaitu Email. Facebook, Twitter, diciptakan untuk kepentingan pribadi, meski belakangan merambah ke dunia bisnis. Mengirim surat bisnis via Facebook terkesan meremehkan kontak Anda. Kecuali dalam situasi tertentu, Anda bisa mengirim pesan ke dalam kotak surat di Facebook atau Twitter bersangkutan. Inipun hanya sementara, setelah mendapat tanggapan, Anda sebaiknya mengirim surat dengan email lagi.
(Sumber Republika)

Monday, 27 June 2011

Wahai Pengobat Cinta...


“Dan Wahai engkau calon pengobat cintaku...
Bila nanti Allah rizkikan engkau untukku
Maka semoga aku juga menjadi rizki mulia untukmu...
Bersama menyempurnakan hati dalam Mahabah-Nya..
Menyemarakan dakwah dengan para Jundi - jundi Allah...
Aku bersama kesederhanaan yang terbalut takwamu...
Bersama menggapai perjuangan ini...
Yang karenamu Allah semakin sayang padaku...
Pada dakwahku..."

Wednesday, 19 January 2011

Hasrat Ingin Berubah


Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.
Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
Tiba-tiba kusadari:
Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
mungkin aku dapat mengubah keluargaku.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.
Kemudian siapa tahu
aku bahkan dapat mengubah dunia
(Dikutip dari The Willingness to Change
Sebuah Puisi yang Ditulis Oleh Seorang Anglican Arch Bishop, Inggris)

Wednesday, 13 May 2009

IPM dan Gerakan Sosial Baru

-->
Paradigma populis, setidaknya telah mengantarkan IPM masuk pada wacana gerakan sosial baru dalam referensi gerakan sosial posmodernisme. Pada tahun 1987, IPM (pernah mengangkat isu gerakan tentang sosialisme relegius, sebagai bentuk pencarian model strategi gerakan untuk melawan kesenjangan sosial yang semakin parah akibat kebijakan Orde Baru yang tidak adil. Akan tetapi, model yang demikian kurang menemukan relevansi sosialnya di tingkat basis. Akhirnya, paradigma waktu itu, kembali pada paradigma elite yang menekankan aspek internalisasi ideologis ke Islaman dan militansi gerakan.
Berbeda dengan paradigma ini, model gerakan sosial baru (new social movement) lebih mengangkat persoalan isu sosial kemanusiaan dan pluralisme secara bersama-sama. Lebih tepatnya, dalam bahasa Islam modus gerakan sosial baru adalah rahmatan lil’alamin, untuk rahmat seluruh alam semesta. Dalam paradigma gerakan ini, sekat-sekat primordialisme gerakan sosial dieliminir dan yang ada adalah musuh yang membahayakan semua orang, seperti, gerakan anti-perang dan terorisme, resolusi konflik, perjuangan hak-hak asasi manusia, gerakan keadilan gender, dan masalah-masalah lingkungan hidup.
Beberapa lokus gerakan sosial baru saat ini, terletak pada: pertama, mengurangi birokratisme negara. Kedua, membangun kesadaran publik akan komoditas publik atau budaya konsumarisme, dan ketiga, mengontrol media massa yang dapat berdampak pada hegemonisasi dan ketergantungan manusia pada media.
Adapun mainstream gerakan IPM dalam menghadapi fenomena baru tersebut ditegaskan melalui perlawanan tanpa kekerasa (nir kekerasan). Kekerasan bisa muncul di mana saja, melalui individu, budaya, media massa, negara, teknologi, dan lain sebagainya. Kekerasan bisa muncul secara struktural, kultural, dan bahkan ideologi. Dampak dari kekerasan adalah adanya korban dan ketidakadilan. Massifnya kekerasan berakibat pada ketidaksadaran manusia akan kekerasan yang ia alami. Biasanya kekerasan ini muncul melalui hegemoni struktural dan kultural dalam masyarakat.

Untuk memahami hal ini dibutuhkan kesadaran kritis manusia yang mampu membaca interaksi dan relasi dalam struktur sosial dan budaya masyarakat. Arti dari kesadaran kritis di sini adalah kemampuan manusia untuk merubahan ataupun mempengaruhi relasi dan interaksi yang tidak adil, atau yang meimbulkan kekerasan, yang sedang terjadi dalam masyarakat. Perubahan tindakan ini dimulai dari individu, kelompok, dan masyarakat. Dengan demikan, diharapkan terdapat proses transformasi sosial yang adil dan tanpa kekerasan.
Terdapat tiga ciri kesadaran kritis, pertama, sadar akan fenomena atau relasi yang tidak adil dalam masyarakat dan merasakannya. Kedua, memahami relasi struktural mengapa kekerasan atau ketidakadilan tersebut terjadi, dan memiliki agenda untuk mengatasi (merubah dan mempengaruhi) masalah tersebut. Ketiga, munculnya tindakan untuk merubah dan mempengaruhi masalah tersebut minimal secara pribadi, kemudian melakukan pengorganisasian yang menimbulkan kekuatan bersama. Dengan adanya pengorganisasian yang memunculkan kekuatan bersama, selanjutnya memiliki strategi dan orientasi untuk melakukan transformasi sosial. Pada titik inilah mainstream gerakan IPM dibangun, yaitu kritisisme dan transformasi sosial. Wallahu A’alam.
 
Design by Free Themes | Bloggerized by Lasantha - Modified By MangABU | indahnya berbagi